Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah Binadji, Pejuang yang Diabadikan Jadi Nama Gang Sempit di Brebes

3.8.22 | Rabu, Agustus 03, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-08-03T03:11:42Z

 

Brebesraya.com - Kisah hidup tokoh yang berperan penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Brebes, Binadji, berakhir tragis. Dia dieksekusi tentara NICA pada 27 Juli 1947. Jenazahnya dilarung di Sungai Pemali. Kini, nama Binadji diabadikan sebagai nama sebuah jalan sempit atau gang di pinggir Sungai Pemali.

Terlahir pada 7 Juni 1907 sebagai anak kuwu (Kepala Desa) Genting, sekarang berada di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Binadji memiliki nama lengkap Binadji Tjokroamidjojo. Dia mewakili sosok elite nasionalisme lokal yang mengawal transisi politik dari pendudukan Jepang hingga lahirnya revolusi 1945 di Brebes.

Jabatannya pada masa pendudukan Jepang, berdasarkan buku 'Orang-orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa' adalah sebagai jaksa. Menelisik riwayatnya, Binadji merupakan sosok priyayi yang 'berbeda'.

Riwayat pendidikan Binmadji adalah pendidikan Eropa. Pada 1912, Binadji memulai sekolah di Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan Middelbare Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Jogja.

Papan nama gang atau Jalan Binadji di BrebesPapan nama gang atau Jalan Binadji di Brebes. Foto: Imam Suripto/detikJateng

Jiwa kepemimpinan Binadji ditempa melalui pendidikan yang mencetak pangrehpraja pribumi modern, yakni Opleiding School voor Inlandche Ambtenaaren (OSVIA). Pada 1922 dia menjadi anggota pergerakan Jong Java, embrio dari organisasi Tri Koro Darma yang digagas Satiman Wirjosandjojo pada 1915.

Sejarawan Pantura, Wijanarto menyebut pada revolusi 1945 Binadji bertugas sebagai jaksa di Brebes. Di tengah kumandang proklamasi kemerdekaan, wilayah Brebes, Tegal, dan Pemalang mengalami arus revolusi Tiga Daerah.

Sebagai nasionalis sejati, Binadji pun tegas menolak bergabung dengan Belanda. Sementara elite-elite lain masih meragukan berdirinya republik yang diproklamasikan Sukarno di Pegangsaan Timur 56.

"Kita tahu sikap pangrehpraja saat itu masih ragu-ragu soal republiknya Sukarno yang diproklamirkan di Pegangsaan Timur 56, termasuk Bupati Brebes kala itu, Sarimin Reksodihardjo. Tapi Binadji sebagai nasionalis menolak bergabung dengan Belanda," kata Wijanarto kepada detikJateng, Selasa (2/8/2022).

Dalam buku Anton Lucas yang berjudul One Soul One Struggle : Region and Revolution in Indonesia, Wijanarto menjelaskan, Sarimin selaku Bupati Brebes saat itu menolak pengibaran bendera Merah Putih sebagai simbolik dukungannya kepada Proklamasi Kemerdekaan. Berbeda dengan Binadji, dia melebur dalam arus revolusi 1945.

Pada 27 September 1945, Binadji terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Brebes bersama dengan Kartohargo, Maksoem Hr, Mohammad Saleh, Imam Sahadat, Kartadi, Soegeng, Soemarno, Ny Mardjono, dr Mohammad Nazaruddin, dan Soenggono.

"Ada sejarah yang tak diketahui dan ini membuktikan soal kapasitas Binadji. Hal ini dituturkan dalam tulisan biografi oleh putranya Bintoro Tjokroamidjojo yang berjudul 'Bapak dan Ibu dalam Ingatan Keluarga'. Disebutkan bahwa saat 9-10 November 1945 diadakan pemilihan Bupati Brebes yang dihadiri utusan Sukarno, Sajuti Melik, Binadji memperoleh suara terbanyak namun dianulir," jelas Wijanarto.

Sejarah pun mencatat yang terpilih saat itu adalah KH Syatori dan Soedjak Sastrowijoto sebagai Patih Brebes.

"Mungkin kita tahu alasan penganuliran Binadji dari sisi latar belakang pangrehpraja yang dianggap golongan status quo. Nasibnya lebih mujur ketimbang Bupati Sarimin," sambung Wijanarto.

Sejarawan ini menambahkan, Binadji tepat digambarkan sebagai manusia dalam arus pusaran sejarah yang kompleks. Ia telah mendarmabaktikan diri sebagai pangrehpraja profesional sekaligus seorang nasionalis.

Tokoh ini juga pernah mengungkapkan adanya kewajiban hidup untuk menolong dan membantu diri sendiri, keluarga dan keturunan, sanak saudara, tetangga, dan sahabat serta pada tanah air dan bangsa.

Karena dianggap mendukung pembentukan republik oleh Sukarno, hidup dan perjuangan Binadji harus berakhir tragis. Tentara pemerintahan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menjemputnya di tempat persembunyian pengungsian di Desa Wangandalem pada 27 Juli 1947.

"Tidak lama setelah dijemput paksa, dia dieksekusi di pinggiran Sungai Pemali. Jenazahnya dilarung ke sungai," lanjut Wijanarto.

Jenazah Binadji ditemukan di Desa Tengki dan dikebumikan di sana. Karena sering terjadi banjir, kuburan Binadji tergerus air dan hilang.

Untuk mengenang jasa Binadji pada masa revolusi, namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan sempit (gang) di pinggiran sungai Pemali.

"Sudah diusulkan agar mendapat gelar pahlawan. Diusulkan bersama tokoh H Syatori melalui Dinsos Brebes beberapa tahun silam," pungkas Wijanarto. (detik.com)

×
Berita Terbaru Update